Dulu, e-sports mungkin hanya dianggap hobi anak muda yang kerjanya main game. Sekarang ceritanya sudah jauh berbeda, lho.

Turnamennya bisa berlangsung di stadion, hadiah mencapai jutaan dolar, sponsor datang dari brand internasional, dan para pemain diperlakukan layaknya atlet profesional.

Di balik semua itu, ada organisasi e-sports raksasa yang memiliki valuasi fantastis.

Nah, kalau kamu penasaran klub e-sports mana saja yang termasuk terkaya di dunia, berikut ini 5 di antaranya! Ada dari Indonesia nggak, ya?

1. Team Liquid (Amerika Serikat)

Team Liquid adalah salah satu organisasi e-sports paling lama dan paling stabil.

Berbasis di Amerika Serikat, tim ini berdiri sejak tahun 2000. Mereka memiliki banyak divisi, mulai dari Dota 2, League of Legends, Counter-Strike 2, Valorant, hingga StarCraft II.

Valuasi tim ini bisa tembus lebih dari 310 juta dolar. Wow!

Nilai tersebut sangat layak mengingat prestasi tim di turnamen internasional, jaringan di berbagai negara, sponsor global, serta manajemen dan brand yang kuat.

Menariknya, Team Liquid tidak hanya fokus bertanding. Mereka juga membangun media, konten, dan komunitas.

Itu sebabnya, mereka sudah menjelmab menjadi perusahaan e-sports besar.

Kalau melihat fasilitas latihan mereka, rasanya memang seperti organisasi olahraga profesional. Keren, bukan?

2. T1 (Korea Selatan)

Kalau kamu penggemar League of Legends alias LoL, nama T1 pasti tidak asing. Tim ini identik dengan sosok Faker dan sejarah panjang di kancah dunia LoL.

Berbasis di Korea Selatan, T1 termasuk salah satu tim paling sukses di Asia.

Valuasi mereka yang diperkirakan mencapai 300 juta dolar lebih yang bersumber dari liga franchise LCK, sponsor internasional, basis fan global, popularitas pemain bintang, dan masih banyak lagi.

Korea Selatan memang dikenal sebagai pusat e-sports. Budaya gaming di sana kuat, infrastrukturnya mendukung, dan penontonnya sangat banyak.

Nggak heran jika T1 bisa mencapai level bisnis seperti sekarang. Bahkan, untuk ukuran klub e-sports, mereka sudah mirip brand global.

3. 100 Thieves (Amerika Serikat)

Jika dua tim sebelumnya terasa seperti klub olahraga klasik, 100 Thieves punya pendekatan berbeda.

Mereka memadukan e-sports dengan gaya hidup, fashion, dan konten kreator.

Nilai valuasi 100 Thieves diperkirakan berada di kisaran 460 juta dolar lebih.

Sumbernya berasal dari:

  1. Investor besar dari dunia teknologi dan hiburan.
  2. Penjualan merchandise dan apparel.
  3. Popularitas tim dan konten media.
  4. Kolaborasi dengan selebritas dan influencer.

Bisa dibilang, 100 Thieves adalah contoh bagaimana e-sports bisa berkembang menjadi industri gaya hidup.

Mirip brand streetwear, hanya saja berangkat dari dunia game.

4. Fnatic (Inggris)

Fnatic berasal dari Inggris dan merupakan salah satu organisasi e-sports paling berpengalaman di Eropa.

Didirikan pada tahun 2004, mereka telah mengikuti berbagai cabang game selama bertahun-tahun.

Valuasi mereka yang berada di kisaran 260 juta dolar lebih yang didukung oleh basis fan yang luas di Eropa dan prestasi di banyak turnamen.

Tidak ketinggalan, ada juga kontrak sponsor jangka panjang ditambah pengelolaan brand yang konsisten.

Fnatic mungkin tidak selalu berada di posisi puncak pemberitaan seperti beberapa klub Amerika, tetapi mereka stabil.

Mereka tumbuh perlahan, membangun tim dengan serius, dan menjaga nama mereka tetap relevan.

Model bisnis seperti ini seringkali justru bertahan lama. Iya, nggak?!

5. G2 Esports (Jerman/Eropa)

G2 Esports dikenal sebagai tim yang “berkepribadian”.

Mereka kuat di kompetisi, tetapi juga aktif di media sosial, kreatif dalam pemasaran, dan dekat dengan penggemar.

Berbasis di Eropa (dengan akar Jerman), G2 berkembang cepat beberapa tahun terakhir.

Estimasi valuasi mereka mencapai 310 juta dolar lebih. Sebagian besar datang dari divisi game yang kompetitif di banyak cabang, penjualan merchandise, sponsor global, dan tentunya konten digital yang massif.

Salah satu keunggulan G2 adalah identitas brand yang jelas.

Mereka tidak kaku, sering bercanda di media sosial, dan terasa “manusiawi”.

Hal itu membuat fan mudah merasa dekat. Lama-lama, kedekatan tersebut berubah menjadi kekuatan komersial.

Kok, Mereka Bisa Kaya, ya?

Hadiah turnamen saja tidak cukup buat melambungkan pundi-pundi. Bahkan, dalam banyak kasus, hadiah bukanlah sumber pendapatan utama.

Hal yang jauh lebih besar justru berasal dari sponsor, investasi dan pendanaan, penjualan merchandise, hak siar, serta kontrak franchise liga resmi.

Dengan kata lain, e-sports sudah berubah menjadi industri profesional.

Ada manajemennya, pemilik saham, analisis bisnis, bahkan strategi pemasaran yang matang.

Dunia game kini tidak lagi dianggap main-main. Benar-benar bisnis. Luar biasa!

Suka membaca topik seputar game, industri e-sports, tips bermain, sampai rekomendasi game ringan?

Kamu bisa terus mengikuti artikel seputar gaming di nuttyaboutneopets.com. Siapa tahu, dari sekadar membaca, kamu jadi makin paham dunia e-sports yang ternyata luas sekali.